Rabu, 28 Oktober 2020

Aliran humanis dan Aliran konstruktivistik

Aliran Humanis Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri serta lebih banyak berbiacara tentang konsep-konsep pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal. 



Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si belajar, maka tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dimilikinya. Teori humanistic berpendapat bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar, secara optimal.

Teori humanistik bersifat sangat eklektik yaitu memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk memanusiakan manusia dan mencapai tujuan yang diinginkan karena tidak dapat disangkal bahwa setiap teori mempunyai kelebihan dan kekurangan.

1. Kolb

Pandangan Kolb tentang belajar dikenal dengan “Belajar Empat Tahap” yaitu:

a. Tahap pandangan konkret

Pada tahap ini seseorang mampu atau dapat mengalami suatu peristiwa atau suatu kejadian sebagaimana adanya namun belum memilki kesadaran tentang hakikat dari peristiwa tersebut,

b. Tahap pemgamatan aktif dan reflektif

Tahap ini seseorang semakin lama akan semakin mampu melakukan observasi secara aktif terhadap peristiwa yang dialaminya dan lebih berkembang.

c. Tahap konseptualisasi

Pada tahap ini seseorang mulai berupaya untuk membuat abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, atau hukum dan prosedur tentang sesuatu yang menjadi objek perhatiannya dan cara berpikirnya menggunakan induktif.

d. Tahap eksperimentasi aktif

Pada tahap ini seseorang sudah mampu mengaplikasikan konsep-konsep, teori-teori atau aturan-aturan ke dalam situasi nyata dan cara berpikirnya menggunakan deduktif.

2. Honey dan Mumford

Honey dan Mumford menggolongkan orang yang belajar ke dalam empat macam atau golongan, yaitu:

a. Kelompok aktivis

Yaitu mereka yang senang melibatkan diri dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman-pengalaman baru.

b. Kelompok reflector

Yaitu mereka yang mempunyai kecenderungan berlawanan dengan kelompok aktivis. Dalam melakukan suatu tindakan kelompok ini sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan.

c. Kelompok teoris

Yaitu mereka yang memiliki kecenderungan yang sangat kritis, suka menganalisis, selalu berpikir rasional dengan menggunakan penalarannya.

d. Kelompok pragmatis

Yaitu mereka yang memiliki sifat-sifat praktis, tidak suka berpanjang lebar dengan teori-teori, konsep-komsep, dalil-dalil, dan sebagainya.

3. Habermas

Menurut Habernas, belajar baru akan tejadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Ia membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu:

a. Belajar teknis (technical learning)

Yaitu belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya secara benar.

b. Belajar praktis (practical learning)

Yaitu belajar bagaimana seseorang dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, yaitu dengan orang-orang di sekelilingnya dengan baik.

c. Belajar emansipatoris (emancipatory learning)

Yaitu belajar yang menekankan upaya agar seseorang mencapai suatu pemahaman dan kesadaran tinggi akan terjadinya perubahan atau transformasi budaya dengan lingkungan sosialnya.

4. Bloom dan Krathwohl

Tujuan belajarnya dikemukakan dengan sebutan Taksonomi Bloom, yaitu:

a. Domain kognitif, terdiri atas 6 tingkatan, yaitu:

1) Pengetahuan

2) Pemahaman

3) Aplikasi

4) Analisis

5) Sintesis

6) Evaluasi

b. Domain psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:

1) Peniruan

2) Penggunaan

3) Ketepatan

4) Perangkaian

5) Naturalisasi

c. Domain afektif, terdiri atas 5 tingkatan, yaitu:

1) Pengenalan

2) Merespon

3) Penghargaan

4) Pengorganisasian

5) Pengalaman

Teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik sering dikritik karena sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis dan dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sulit diterjemahkan ke dalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep, taksonomi-taksonomi tujuan yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakikat kejiwaan manusia.

Dalam praktiknya teori ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.


Aliran Kontruktivistik

Konstruktivistik merupakan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman atau dengan kata lain teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. 

Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek untuk aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.




Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:

1.      Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

2.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.

3.      Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman suatu konsep secara lengkap.

4.      Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.

5.      Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.

Hakikat pembelajaran konstruktivistik oleh Brooks & Brooks dalam Degeng mengatakan bahwa pengetahuan adalah non-objective, bersifat temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar dilihat sebagai penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar berarti menata lingkungan agar si belajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Atas dasar ini maka si belajar akan memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergentung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

Teori ini lebih menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya tua tetap saja tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Dalam proses ini keaktifan seseorang sangat menentukan perrkembangan pengetahuannya.

Unsur-unsur penting dalam teori konstruktivistik

1.      Memperhatikan dan memanfaatkan pengetahuan awal siswa

2.      Pengalaman belajar yang autentik dan bermakna

3.      Adanya lingkungan social yang kondusif

4.      Adanya dorongan agar siswa mandiri

5.      Adanya usaha untuk mengenalkan siswa tentang dunia ilmiah

Secara garis besar, prinsip-prinsip teori konstruktivistik adalah sebagai berikut:

1)        Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.

2)        Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.

3)        Murid aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.

4)        Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses konstruksi berjalan lancar.

5)        Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.

6)        Struktur pembelajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pernyataan.

7)        Mencari dan menilai pendapat siswa.

8)        Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

Proses belajar konstrutivistik dapat dilihat dari berbagai aspek, yaitu:

1. Proses belajar konstruktivistik

Esensi dari teori konstruktivistik adalah siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Sehingga dalam proses belajar, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka dengan keterlibatan aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

2. Peranan siswa

Dalam pembelajaran konstruktivistik, siswa menjadi pusat kegiatan dan guru sebagai fasiitator. Karena belajar merupakan suatu proses pemaknaan atau pembentukan pengetahuan dari pengalaman secara konkrit, aktivitas kolaboratif, refleksi serta interpretasi yang harus dilukukan oleh siswa sendiri.

3. Peranan guru

Guru atau pendidik berperan sebagai fasilitator artinya membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri dan proses pengkonstruksian pengetahuan agar berjalan lancar. Guru tidak mentransferkan pengetahuan yang dimilikinya pada siswa tetapi guru dituntut untuk memahami jalan pikiran atau cara pandang setiap siswa dalam belajar.

4. Sarana belajar

Sarana belajar dibutuhkan siswa untuk mengembangkan pengetahuan yang telah diperoleh agar mendapatkan pengetahuan yang maksimal.

5. Evaluasi hasil belajar

Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar yang menekankan pada ketrampilan proses baik individu maupun kelompok. Dengan cara ini, maka kita dapat mengetahui seberapa besar suatu pengetahuan telah dipahami oleh siswa.

Aplikasi Teori Konstruktivistik Dalam Pembelajaran :

a.       Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengmbangkan ide-idenya secara lebih bebas.

b.      Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan ide-ide  atau gagasan-gagasan, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.

c.       Guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, dimana terjadi bermacam-macam pandangan  tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi.

d.      Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaianya  merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar dipahami, tidak teratur, dan tidak mudah dikelola.

Aplikasi Teori Konstruktivistik Dalam Pembelajaran :

e.       Membebaskan siswa dari belenggu kurikulum yang berisi fakta-fakta lepas yang sudah ditetapkan, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengmbangkan ide-idenya secara lebih bebas.

f.       Menempatkan siswa sebagai kekuatan timbulnya interes, untuk membuat hubungan ide-ide  atau gagasan-gagasan, kemudian memformulasikan kembali ide-ide tersebut, serta membuat kesimpulan-kesimpulan.

g.      Guru bersama-sama siswa mengkaji pesan-pesan penting bahwa dunia adalah kompleks, dimana terjadi bermacam-macam pandangan  tentang kebenaran yang datangnya dari berbagai interpretasi.

h.      Guru mengakui bahwa proses belajar serta penilaianya  merupakan suatu usaha yang kompleks, sukar dipahami, tidak teratur, dan tidak mudah dikelola

TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF Asumi dasar Teori Piaget



 Teori Perkembangan Kognitif




adalah teori yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental.

Asumsi Dasar
Pemikiran dasar dari teori Piaget terdapat pada konsep construktivisme sifat kecerdasan dan faktor-faktor penting dalam perkembangan kognitif.
Yang diantaranya :
A.    Konstruktivisme dalam kecerdasan
Pada awalnya Piaget mengenalkan teori kepada masyarakat dalam bahasa Inggris setelah perang dunia II, dan membuat imbas yang besar, serta diperkuat dengan Bold yang mengemukakan tentang perbedaan-perbedaan pandangan tradisional pengetahuan.
Berbeda dengan pandangan tradisional. Piaget pada tahun 1990 mempertahankan bahwa pengetahuan tradisional mampu diajarkan dalam tiga cara. Pertama, psikolog dan para pendidik mempunyai beberapa type.(a) beberapa pandangan yang "di luar sana" dalam benda dan peristiwa yang (b) terdiri dari tujuan statis informasi tentang "nyata" dunia. Oleh karena itu, (c) individu dan lingkungan eksternal.
B.     Kerangka Kerja Penelitian Piaget
Pendekatan Piaget untuk belajar pengembangan inovasi sendiri suatu kecerdasan. Ia bermula dengan empat pertanyaan berikut harus dijawab. Mereka adalah apa yang kita sifat pengetahuan? Apa hubungan antara kenyataan ? Apa yang dimaksud dengan sifat kecerdasan ? Dan apa saja cara yang sesuai penyelidikan? Seperti yang ditunjukkan pada tabel 8.1, Piaget membentuk kerangka penelitian-nya dan teori dari filosofi disiplin ilmu, biologi, dan psikologi. Untuk Piaget, sifat pengetahuan dan hubungan peserta dapat realitas pertanyaan filosofis. Biologi, dalam pandangannya, yang disediakan jawabannya untuk sifat kecerdasan, dan psikologi ditujukan isu metode yang sesuai studi (pengamatan dan percobaan).
Proses untuk mengetahui dibuat dalam individu Perusahaannya Jalways mempunyai inflas ditindakan-tindakan dengan lingkungan. "Untuk mengetahui adalah untuk bertindak, kering, dalam ketiadaan tindakan, pertanyaan tentang pengetahuan [mengetahui] menjadi bungkam dalam sistem Piaget" (Pufall, 1988). Mengetahui juga berisi banyak komponen subjektif; oleh sebab itu, ia adalah sebuah hubungan dan tidak ada beberapa kautamaan yang diberikan. Misalnya, anak-anak muda pada awalnya berpikir bahwa segala sesuatu yang bergerak atau dapat dipindahkan hidup, termasuk batu dan awan. Pertama, anak-anak percaya bahwa gunung batu yang hidup karena anda dapat membuangnya. Kemudian, mereka akan berkata bahwa ia tidak  hidup karena anda membuangnya. Akhirnya, anak-anak fikirkan pandangan-pandangan mereka tentang hidup dan zat-sesuatu dengan menyisihkan, dan tindakan sebagai kriteria yang hidup.

untuk memahami proses-proses penataan dan adaptasi terdapat empat konsep dasar, yaitu sebagai berikut :

1. Skema

istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan.

Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual.

Adaptasi terdiri atas proses yang saling mengisi antara asimilasi dan akomodasi

2. Asimilasi

asimilasi itu suatu proses kognitif, dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yan ada atau tingkah laku yang ada. Asimilasi berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya memperoses satu stimulis saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata, tetapi asimilasi mempnagruhi pertumbuhan skemata. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses kognitif, denga proses itu individu secara kognitif megadaptsi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu.

3. Akomodasi

Akomodasi dapat diartikan sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan disebut oleh Piaget adalah keseimbangan.

Untuk keperluan pegkonseptualisasian pertumbuhan kognitif /perkembangan intelektual Piaget membagi perkemabngan ini ke dalam 4 periode yaitu :

Ø Periode Sensori motor (0-2,0 tahun)

Pada periode ini tingksh laku anak bersifat motorik dan anak menggunakan system penginderaan untuk mengenal lingkungannya untu mengenal obyek.

Ø Periode Pra operasional (2,0-7,0 tahun)

Pada periode ini anak bisa melakukan sesuatu sebagai hasil meniru atau mengamati sesuatu model tingkah laku dan mampu melakukan simbolisasi.

Ø Periode konkret (7,0-11,0 tahun)

Pada periode ini anak sudah mampu menggunakan operasi. Pemikiran anak tidak lagi didominasi oleh persepsi, sebab anak mampu memecahkan masalah secara logis.

Ø Periode operasi formal (11,0-dewasa)

Periode operasi fomal merupakan tingkat puncak perkembangan struktur kognitif, anak remaja mampu berpikir logis untuk semua jenis masalah hipotesis, masalah verbal, dan ia dapat menggunakan penalaran ilmiah dan dapat menerima pandangan orang lain.

Piaget mengeukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif :

a. Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembanagn dari susunan syaraf.

b. Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulusdalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu.

c. Interaksi social, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu

d. Keseimbangan, adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan peranan pendewasaan, penglaman fisis, dan interksi social.

Tahap perkembangan anak menurut Jean Piaget

1. Tahap sensorimotor

Yaitu terjadi pada bayi usia 0-2 tahun. Menurut Piaget, setiap bayi lahir dengan refleks bawaan dan keinginan untuk mengekplorasi sekitarnya. Pada usia ini, kemampuan bayi masih sangat terbatas pada gerak refleks dan panca indra. Gerakan-gerakan refleks pun nantinya akan berkembang menjadi kebiasaan. 

Pada tahapan ini, si Kecil belum bisa mempertimbangkan keinginan orang lain. Ia hanya mau keinginannya yang terpenuhi. Mungkin terkesan egois ya, tetapi itulah yang terjadi. Nah pada usia 18 bulan, si Kecil sudah bisa memahami fungsi barang yang dekat dengannya sehari-hari. Ia juga bisa melihat hubungan antar peristiwa dan mengenali orang-orang seperti anggota keluarganya.

2. Tahap Praoprasional

Tahap praoperasional adalah tahap perkembangan bayi usia 2-7 tahun. Pada masa ini, si Kecil sudah bisa bersosialisasi dengan lingkungannya. Ia juga bisa mengelompokkan berbagai barang berdasarkan warna, bentuk, dan lain sebagainya.

3. Tahap Oprasional Kongkret

Ketika si Kecil memasuki usia 7-11 tahun, ia sudah memasuki tahap operasional konkret. Ia mampu mengurutkan dan mengklasifikasikan objek serta situasi-situasi yang dihadapi. Ia juga sudah mampu mengingat dan berpikir secara logis.

Anak-anak di tahapan perkembangan ini mulai memahami konsep sebab akibat secara sistematis dan rasional. Ini adalah waktu yang tepat untuk belajar membaca dan matematika. Sikap egoisnya pun menghilang secara perlahan, karena ia mulai memahami suatu permasalahan dan sudut pandang orang lain.

4. Tahap Oprasional Formal

Tahapan perkembangan ini berkisar dari usia 11 tahun ke atas. Si Kecil sudah mulai mampu berpikir abstrak dan menggunakan nalarnya. Ia sudah bisa menarik kesimpulan dari berbagai informasi yang diterima. Ia mulai memahami konsep abstrak, seperti cinta dan norma-norma. Ia juga mulai melihat kalau hidup tidak selalu hitam ataupun putih. Tahapan terakhir ini adalah persiapan si Kecil menuju dewasa.

Kelancaran perkembangan kognitif pada anak tergantung pada beberapa faktor, yaitu:

  1. Keturunan. Seorang anak akan memiliki kemampuan berpikir yang mirip dengan orang tuanya. Tentu kemampuan yang satu ini sangat dipengaruhi oleh komunikasi antara Mums dan Dads dengan dirinya.
  2. Lingkungan. Keluarga dan sekolah mendukung perkembangan kognitif anak. Penting bagi Mums dan Dads untuk memiliki karakter yang baik serta sabar pada perkembangan si Kecil. Demikian pula ketika memilih sekolah untuknya.

Selasa, 20 Oktober 2020

Aliran-aliran Besar Teori Belajar

             


 


1. Aliran Behavioristik

     Aliran behaviorisme ini mengganti konsep kesadaran dan ketidaksadaran ala psikoanalisa dengan istilah stimulus, response, dan habit. Stimulus selanjutnya dimaknakan sebagai sesuatu yang dapat dimanipulasi atau direkayasa lingkungan sebagai upaya membentuk perilaku manusia melalui respons yang muncul sebagaimana yang diharapkan lingkungan, sedangkan habit adalah hasil pembentukan perilaku tersebut. Secara tegas, aliran behaviorisme menolak pandangan dari aliran pendahulunya, yaitu aliran psikoanalisa yang memandang bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh insting tak sadar dan dorongan-dorongan nafsu rendah.

          Dalam teori Behavioristik, yang terpenting itu adalah masukan atau input yang berupa stimulus serta output yang berupa respon. Apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidaklah penting karena tidak dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran sebab dengan pengukuran kita akan melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

 




2. Aliran Kognitif

       Kognitivisme merupakan suatu bentuk materi yang sering disebut sebagai model kognitif atau perceptual. Di dalam model  ini tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan-tujuannya. Belajar  disini dipandang sebagai perubahan persepsi dan pemahaman,yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Teori ini juga menekankan pada gagasan bahwa bagian-bagian situasi saling berhubungan dengan konteks seluruh situasi tersebut.

 

Belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi dan faktor-faktor lain. Proses belajar yang meliputi pengaturan stimulus yang diterima dan menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran seseorang berdasarkan pengalaman- pengalaman sebelumnya.

Jumat, 16 Oktober 2020

Tahapan Perkembangan Memori pada Anak Usia dini

Mungkin hanya sedikit dari kita yang masih menyimpan memori saat kita masih anak-anak. Jika diingat-ingat kembali, memori pada saat anak-anak masih ada yang bisa diingat kembali namun lebih banyak lagi ingatan yang hilang.

Tampaknya hal ini sangat dipahami oleh guru-guru di taman kanak-kanak. Dalam metode pendidikan di taman kanak-kanak lebih tepatnya pendidikan anak usia dini, guru akan menyampaikan pelajaran semenarik dan semenyenangkan mungkin demi mempermudah anak-anak mengingat materi dari pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Pembelajaran bisa dilakukan dalam bentuk permainan atau lagu-lagu yang menyenangkan. Hal ini tentu berbeda dengan sistem pengajaran di sekolah dasar dan seterusnya yang lebih menggunakan metode ‘ceramah’ dan sejenisnya.



1. Konsep memori pada anak

Memori adalah kemampuan seorang individu dalam penyimpanan, mempertahankan hingga mengingat kembali informasi dan pengalaman yang pernah didapatnya. Memori ini letaknya ada pada otak yang berarti otak memegang peranan penting dalam penyimpanan dan pembentukan memori ini.

 Dalam pembentukan memori ini akan berjalan sebuah proses yang harus berlangsung berurutan dan bebas gangguan. Dalam memanggil memori, atau disebut juga dengan istilah recall, akan melibatkan saraf-saraf yang ada di otak. Secara umum, ada 3 proses dalam pembentukan memori, yaitu:

 


A. Encoding atau registration : yaitu proses menerima, mengolah dan menggabungkan informasi-informasi yang diterima.

B. Storage : yaitu proses dimana terjadi penciptaan catatan permanen atas informasi yang diterima sebelumnya.

C. Retrieval : disebut juga sebagai recall atau recollection, yaitu proses memanggil kembali informasi yang telah disimpan dalam rangka memberi respon atas stimulus atau isyarat dari kegiatan yang dilakukan

2. Memori Sensorik

Memori sensorik adalah memori yang akan membuat kita teringat gambaran informasi yang bersifat sensorik, seperti gambar, suara dan lain-lain setelah informasi yang didapatkan sudah berlalu. Misalnya, ketika anak-anak melihat sebuah benda, anak tersebut akan mengingat bentuk benda tersebut selama beberapa detik.

3. Memori Jangka Pendek

Merupakan memori yang membuat kita bisa mengingat selama beberapa detik hingga satu menit tanpa berlatik. Maka, jika kita berlatih dan mengulang ingatan, kita bisa mengingat hal-hal lebih banyak dan lebih lama. Untuk mempermudah memori jangka pendek, anak-anak biasanya diminta untuk mengulang-ulang informasi, misalnya dalam menghafal angka mereka akan mengulang-ulang urutan angka.

4. Memori Jangka Panjang

Memori jangka panjang merupakan memori yang berisi informasi untuk keperluan jangka panjang. Untuk bisa mendapatkan memori ini, dibutuhkan proses retrieval atau mengingat kembali informasi yang dibutuhkan. Contoh dari memori jangka panjang adalah ketika anak mengingat nama teman sekolahnya, nama gurunya, dan lain sebagainya.

5. Anak Mudah Lupa
Lupa adalah satu hal yang normal dan bisa terjadi pada siapa saja, baik orang dewasa maupun anak-anak. Pada beberapa kondisi, mudah lupa bisa terjadi karena pertambahan usia, dan rentan dialami orang yang sudah memasuki usia senja. Mudah lupa pada orang yang sudah lanjut usia bisa saja terjadi karena penurunan fungsi otak yang menyebabkan berkurangnya daya ingat, kemampuan berpikir, hingga menurunnya kecerdasan mental seseorang.

 


Saat ini yang mudah lupa ternyata tidak hanya dialami lansia, sering lupa bahkan sudah menyerang orang yang usianya masih relatif muda. Sebenarnya, masalah ini tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, sebab ada beberapa kondisi lupa yang masih normal dan wajar terjadi. Beberapa ciri lupa yang wajar pada anak adalah lupa peristiwa dari waktu ke waktu atau lupa kejadian yang sudah lalu. Hal ini normal karena pada dasarnya memori otak manusia dibagi menjadi dua kategori, yaitu yang berisi informasi penting yang tak mungkin dilupakan dan memori yang harus kembali diingat karena tidak selalu muncul di pikiran.

Selasa, 13 Oktober 2020

Teori Belajar Psikolog perkembangan

 I. Definisi dan Jenis-jenis sumber belajar

 


Secara garis besarnya, terdapat dua jenis sumber belajar yaitu:

 

1.  Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.

 2.  Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran.

 Kita dapat membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu:

1.  Pesan (Message)

Pesan merupakan sumber belajar yang meliputi pesan formal yaitu pesan yang dikeluarkan oleh lembaga resmi, seperti pemerintah atau pesan yang disampaikan guru dalam situasi pembelajaran. Pesan-pesan ini selain disampaikan secara lisan juga dibuat dalam bentuk dokumen seperti kurikulum, peraturan pemerintah, perundangan, GBPP, silabus, satuan pembelajaran dan sebagainya. Pesan nonformal yaitu pesan yang ada di lingkungan masyarakat luas yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran misalnya cerita rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama, prasasti, kitab-kitab kuno, yang lainnya.

 

2.  Orang (People)

Semua orang pada dasarnya dapat berperan sebagai sumber belajar, namun secara umum dapat dibagi dua kelompok. Pertama, kelompok orang yang didesain khusus sebagai sumber belajar utama yang dididik secara profesional untuk mengajar, seperti guru, konselor, instruktur, dan widyaiswara. Termasuk kepala sekolah, teknisi sumber belajar, pustakawan dan lain-lain. Kelompok yang kedua adalah orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada di lingkungan pendidikan dan profesinya tidak terbatas. Misalnya politisi, tenaga kesehatan, pertanian, arsitek, psikolog, lawyer, polisi pengusaha dan lain-lain.

 

3. Bahan (Matterials)

Bahan merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film, program slide, alat peraga dan sebagainya (biasa disebut software).

 

4.  Alat (Device)

Alat yang dimaksud di sini adalah benda-benda yang berbentuk fisik sering disebut juga dengan perangkat keras (hardware). Alat ini berfungsi untuk menyajikan bahan-bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup multimedia Projector, Slide Projector, OHP, Film, tape recorder, Opaqe projector, dan sebagainya.

 

5.  Teknik

Teknik yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah, permainan/simulasi, tanya jawab, sosiodrama, dan sebagainya.

 

6. Latar (Setting)

Latar atau lingkungan yang berada di dalam sekolah maupun lingkungan yang berada di luar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, tempat workshop, halaman sekolah, kebun sekolah, lapangan sekolah, dan sebagainya.Sumber belajar yang diuraikan di atas, merupakan komponen-komponen yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. Secara khusus untuk kategori bahan (matterials) dan & alat (device) yang kita kenal sebagai software dan hardware tak lain adalah media pendidikan.

 

II. Jenis pendekatan belajar

 


Pendekatan dalam pembelajaran secara garis besar dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu: teacher centered (berpusat pada guru) dan student centered (berpusat pada siswa).

 

Pendekatan Teacher Centered

Pada pendekatan ini, pembelajaran berpusat pada Guru sebagai seorang ahli yang memegang kontrol selama proses pembelajaran dalam aspek organisasi, materi, dan waktu. Guru bertindak sebagai pakar yang mengutarakan pengalamannya sehingga dapat menstimulus perkembangan siswa.

 

Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan beberapa strategi seperti: pembelajaran langsung (direct instruction), dan pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori.

 

Pendekatan Student Centered

Sementara itu, pendekatan student centered mendorong siswa untuk mengerjakan sesuatu sebagai pengalaman praktik dan membangun makna atas pengalaman yang diperolehnya. Pusat pembelajaran diserahkan langsung ke peserta didik dengan supervisi dari Guru.

 

Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran seperti discovery learning dan inquiry (penyingkapan atau penyelidikan).

 

III. Jenis-jenis model pembelajaran

                              

1. Jenis pendekatan pembelajaran konstektual

Pendekatan yang satu ini juga sering disebut sebagai sel atau contextual teaching and learning. Untuk metode ini menjadi salah satu konsep pembelajaran, Di mana para pendidik mampu mengajarkan seluruh materi yang nantinya akan dikaitkan dengan situasi di dalam kehidupan nyata. Yang mana hal tersebut mempunyai tujuan agar mendorong para siswa membuat hubungan di antara pengetahuan yang dimilikinya. Serta mampu melakukan penerapan di dalam kehidupan mereka.

 

2. Jenis pembelajaran kontruktivisme

Untuk jenis yang kedua ini adalah konstruktivisme yang menjadi pendekatan yang akan lebih menekankan adanya tingkat kreatifitas dari para siswa. Dimana para siswa harus bisa menyalurkan ide-ide baru yang mereka miliki, yang tentunya proses pembuatan ini juga mampu mengembangkan diri para siswa yang berdasarkan dari pengetahuan.

 

3. Jenis pembelaaran deduktif

pendekatan deduktif atau deductive approach yang merupakan pendekatan dengan memakai logika. Dengan cara ini bertujuan untuk bisa menarik satu atau lebih kesimpulan yang masih berdasarkan dengan seperangkat premis yang sudah diberikan.

 

Selain itu, pendekatan deduktif ini juga menjadi proses dari penalaran yang pada awalnya dilihat dari keadaan umum menuju keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran. Yang bermula dengan cara menyajikan aturan, kemudian prinsip umum lalu diikuti dengan adanya contoh-contoh khusus ke dalam keadaan khusus.

 

4. Jenis pembelajaran induktif

Sedangkan pada pendekatan induktif ini adalah sebuah metode yang dilakukan para guru untuk mengambil kesimpulan yang berasal dari suatu umum kemudian menuju ke suatu yang khusus. Di mana pendekatan induktif ini lebih menekankan untuk melakukan pengamatan terlebih dahulu lalu menarik kesimpulan dari apa yang telah diamati sebelumnya.

 

5. Jenis pembelajaran konsep

Untuk konsep ini merupakan pendekatan yang lebih mengarahkan para siswa agar bisa menguasai konsep secara benar. Dan juga mempunyai tujuan agar tidak terjadi sebuah kesalahan dalam konsepnya. Konsep juga dapat diartikan menjadi struktur mental yang didapatkan dari adanya pengamatan maupun pengalaman.

 

6. Jenis pembelajaran Konsep


Untuk konsep ini merupakan pendekatan yang lebih mengarahkan para siswa agar bisa menguasai konsep secara benar. Dan juga mempunyai tujuan agar tidak terjadi sebuah kesalahan dalam konsepnya. Konsep juga dapat diartikan menjadi struktur mental yang didapatkan dari adanya pengamatan maupun pengalaman.

 

Tujuan utama dengan adanya pendekatan proses ini adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam keterampilan proses seperti mengamati, memberikan hipotesis, merencanakan, kemudian menafsirkan bagan mengkomunikasikan yang telah diamati.

Pengertian, Tujuan Dan Strategi Pembelajaran CTL (Contextual Teaching And Learning) Anak Usia Dini

  Individualized structure kontekstual berasal dari customized organization Context yang berarti "hubungan, konteks, suasana dan keadaa...